081775037001
081775037001
kelurahanbanyuning21@gmail.com
Kelurahan Banyuning

“Warung Kecil, Tradisi Besar: Laklak Lunglung dan Ketahanan Kuliner Lokal”

Admin kelurahanbanyuning | 30 Desember 2025 | 112 kali

Di tengah arus modernisasi yang kian deras menerpa ruang-ruang lokal, Desa Banyuning di Kabupaten Buleleng masih menyimpan denyut tradisi yang bernafas perlahan namun konsisten. Salah satu denyut itu hadir dalam bentuk sederhana: laklak hangat yang mengepul di atas tungku tanah liat. Di sebuah sudut desa, Warung Laklak Lunglung milik Komang Suratmi berdiri sebagai ruang pertemuan antara memori kolektif, kerja domestik, dan keberlanjutan budaya kuliner Bali.

Laklak, sebagai makanan tradisional Bali, bukan sekadar produk konsumsi, melainkan representasi pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi. Terbuat dari adonan tepung beras, santan, dan air daun pandan, laklak dipanggang dalam cetakan tanah liat dan disajikan dengan parutan kelapa serta gula aren cair. Proses ini menuntut ketelatenan, ritme, dan kesabaran menjadi nilai-nilai yang selaras dengan filosofi hidup masyarakat Bali yang menempatkan harmoni sebagai poros kehidupan.

Sejak lebih dari sebelas tahun lalu, Komang Suratmi menjadikan laklak bukan hanya sebagai mata pencaharian, tetapi sebagai medium perlawanan kultural terhadap pelupaan. Warung Laklak Lunglung yang secara harfiah bermakna “tersembunyi” atau “terpencil” tidak hadir dengan papan reklame besar atau strategi pemasaran digital yang agresif. Ia tumbuh melalui kepercayaan, dari mulut ke mulut, dari satu pelanggan ke pelanggan lain, sebagaimana tradisi itu sendiri diwariskan.

 Dalam perspektif ekonomi kerakyatan, usaha kecil seperti Warung Laklak Lunglung memainkan peran signifikan dalam menopang ketahanan ekonomi keluarga sekaligus memperkuat identitas lokal. Usaha ini beroperasi dengan modal terbatas, berbasis rumah tangga, serta mengandalkan tenaga kerja keluarga. Namun justru dalam keterbatasan itulah terdapat kekuatan: fleksibilitas, keberlanjutan, dan kedekatan emosional antara produsen dan konsumen.

Komang Suratmi menjalankan usahanya dengan kesadaran etis terhadap kualitas dan keaslian. Ia tetap mempertahankan penggunaan cetakan tradisional dan bahan-bahan lokal, meskipun tuntutan efisiensi kerap menggoda untuk beralih pada cara-cara instan. Pilihan ini bukan semata soal teknik produksi, melainkan sikap ideologis bahwa rasa tidak bisa dipercepat, dan tradisi tidak bisa disubstitusi.

Warung Laklak Lunglung juga menjadi ruang sosial. Ia menjadi tempat singgah warga selepas sembahyang pagi, ruang obrolan ringan tentang cuaca, panen, atau kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, laklak berfungsi sebagai perekat sosial, menjembatani relasi antarindividu melalui pengalaman rasa yang sama. Makanan, dengan demikian, bertransformasi menjadi teks budaya yang dapat dibaca, dirasakan, dan dihayati.

Di era globalisasi kuliner, ketika makanan tradisional kerap direduksi menjadi komoditas wisata, keberadaan Warung Laklak Lunglung menawarkan narasi alternatif: bahwa tradisi dapat bertahan tanpa harus kehilangan kesederhanaannya. Usaha ini tidak mengejar sensasi, melainkan konsistensi; tidak memburu tren, tetapi merawat ingatan.

Berita Terpopuler
Tidak ada data