Di tengah arus modernisasi yang kian deras menerpa
ruang-ruang lokal, Desa Banyuning di Kabupaten Buleleng masih menyimpan denyut
tradisi yang bernafas perlahan namun konsisten. Salah satu denyut itu hadir
dalam bentuk sederhana: laklak hangat yang mengepul di atas tungku tanah liat.
Di sebuah sudut desa, Warung Laklak Lunglung milik Komang Suratmi
berdiri sebagai ruang pertemuan antara memori kolektif, kerja domestik, dan
keberlanjutan budaya kuliner Bali.
Laklak, sebagai makanan tradisional Bali, bukan sekadar
produk konsumsi, melainkan representasi pengetahuan lokal yang diwariskan
lintas generasi. Terbuat dari adonan tepung beras, santan, dan air daun pandan,
laklak dipanggang dalam cetakan tanah liat dan disajikan dengan parutan kelapa
serta gula aren cair. Proses ini menuntut ketelatenan, ritme, dan kesabaran
menjadi nilai-nilai yang selaras dengan filosofi hidup masyarakat Bali yang
menempatkan harmoni sebagai poros kehidupan.
Sejak lebih dari sebelas tahun lalu, Komang Suratmi
menjadikan laklak bukan hanya sebagai mata pencaharian, tetapi sebagai medium
perlawanan kultural terhadap pelupaan. Warung Laklak Lunglung yang
secara harfiah bermakna “tersembunyi” atau “terpencil” tidak hadir dengan papan
reklame besar atau strategi pemasaran digital yang agresif. Ia tumbuh melalui
kepercayaan, dari mulut ke mulut, dari satu pelanggan ke pelanggan lain,
sebagaimana tradisi itu sendiri diwariskan.
Dalam perspektif ekonomi kerakyatan, usaha kecil seperti Warung Laklak Lunglung memainkan peran signifikan dalam menopang ketahanan ekonomi keluarga sekaligus memperkuat identitas lokal. Usaha ini beroperasi dengan modal terbatas, berbasis rumah tangga, serta mengandalkan tenaga kerja keluarga. Namun justru dalam keterbatasan itulah terdapat kekuatan: fleksibilitas, keberlanjutan, dan kedekatan emosional antara produsen dan konsumen.
Komang Suratmi menjalankan usahanya dengan kesadaran etis
terhadap kualitas dan keaslian. Ia tetap mempertahankan penggunaan cetakan
tradisional dan bahan-bahan lokal, meskipun tuntutan efisiensi kerap menggoda
untuk beralih pada cara-cara instan. Pilihan ini bukan semata soal teknik
produksi, melainkan sikap ideologis bahwa rasa tidak bisa dipercepat, dan
tradisi tidak bisa disubstitusi.
Warung Laklak Lunglung juga menjadi ruang sosial.
Ia menjadi tempat singgah warga selepas sembahyang pagi, ruang obrolan ringan
tentang cuaca, panen, atau kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, laklak
berfungsi sebagai perekat sosial, menjembatani relasi antarindividu melalui
pengalaman rasa yang sama. Makanan, dengan demikian, bertransformasi menjadi
teks budaya yang dapat dibaca, dirasakan, dan dihayati.
Di era globalisasi kuliner, ketika makanan tradisional
kerap direduksi menjadi komoditas wisata, keberadaan Warung Laklak Lunglung
menawarkan narasi alternatif: bahwa tradisi dapat bertahan tanpa harus
kehilangan kesederhanaannya. Usaha ini tidak mengejar sensasi, melainkan
konsistensi; tidak memburu tren, tetapi merawat ingatan.