By: Ni Putu Diva Maharani
Desa Banyuning di Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, telah lama dikenal sebagai pusat pembuatan barang gerabah. Berada di jantung Buleleng, desa ini bukan hanya memproduksi barang-barang fungsional untuk kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjaga tradisi yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagi warga Banyuning, proses pembuatan gerabah tidak sekadar untuk bekerja atau sebagai sumber pendapatan, tetapi merupakan bagian dari warisan budaya dan spiritual yang mencerminkan identitas desa mereka.
Kerajinan gerabah di Banyuning berakar dari kebutuhan
masyarakat di masa lalu. Sebelum barang-barang dari logam dan plastik menjadi
populer, alat-alat rumah tangga yang dominan di Bali dibuat dari tanah liat.
Mulai dari kendi untuk menyimpan air, periuk untuk memasakan, tungku dapur,
hingga wadah untuk sesajen dalam upacara adat, seluruhnya dihasilkan oleh para
pengrajin yang terampil. Seiring berjalannya waktu, meskipun banyak produk
modern mulai menggantikan fungsi gerabah, keberadaannya tetap relevan karena
nilai tradisionalnya dan masih dipakai dalam berbagai upacara keagamaan Hindu
di Bali.
Proses pembuatan gerabah di Banyuning dilakukan
dengan metode tradisional yang memerlukan ketekunan. Tanah liat berkualitas tinggi diambil dari lokasi
tertentu yang dianggap paling baik. Tanah ini
kemudian diproses dengan menjemurnya hingga kering, lalu dihaluskan menggunakan
sidi. Setelah tanah halus, adonan dituangkan di tempat yang bentuknya segi
panjang, mencampurkan air dan menguleni hingga mendapatkan adonan yang lembut
dan elastis. Setelah itu, para pengrajin mulai membentuk adonan tersebut
menggunakan tangan maupun alat sederhana. Di Banyuning, teknik putar
tradisional masih sering dipraktikkan untuk membentuk objek dengan simetris.
Setelah selesai membuat, gerabah harus dikeringkan terlebih dahulu di bawah
sinar matahari.
Waktu pengeringan ini berkisar antara satu hingga dua
hari, tergantung pada cuaca. Jika belum cukup kering, gerabah bisa retak saat
dibakar. Tahap selanjutnya adalah proses pembakaran, yang merupakan momen
paling krusial dalam pembuatan gerabah. Di Banyuning, pembakaran dilakukan
dengan cara menggunakan tungku sederhana yang terbuat dari susunan kayu, sabut
kelapa, dan jerami kering. Proses ini membutuhkan waktu berjam-jam hingga suhu
tinggi merubah tanah liat menjadi keras dan awet. Umumnya, pembuatan gerabah
memerlukan waktu sekitar dua minggu untuk mencapai hasil yang ideal. Dari
proses tersebut lahir gerabah khas Banyuning dengan warna coklat kehitaman dan
tekstur alami yang menjadi ciri khasnya.
Namun, tantangan semakin sulit untuk diabaikan. Luh
Suryanti, pemilik salah satu lokasi pembuatan gerabah di Banyuning, menyatakan
bahwa jumlah perajin saat ini semakin sedikit karena rendahnya minat beli. Ia
mengungkapkan, pembeli biasanya hanya datang pada waktu-waktu tertentu, seperti
menjelang hari raya. Kondisi ini membuat beberapa warga mulai meninggalkan
profesi sebagai pengrajin dan beralih ke pekerjaan lain. Meskipun begitu, gerabah Banyuning memiliki posisi
istimewa di hati komunitas setempat. Produk ini masih sangat dibutuhkan dalam
ritual tradisional, keperluan rumah tangga klasik, serta sebagai oleh-oleh bagi
wisatawan. Pemerintah Kabupaten Buleleng bersama kelompok pengrajin kini mulai
memperluas promosi kerajinan ini ke pangsa yang lebih besar.
Berbagai pameran kerajinan, festival budaya, dan program
pelatihan desain kontemporer diselenggarakan untuk memberikan inovasi pada gerabah
Banyuning tanpa kehilangan keasliannya. Sejumlah perajin juga mulai berinovasi
dengan menciptakan barang-barang dekoratif, vas bunga, hingga suvenir kecil
yang lebih menarik perhatian para wisatawan.
“Gerabah Banyuning lebih dari sekadar produk yang
berguna; ia mencerminkan identitas budaya masyarakat Buleleng. Kami berharap
generasi masa depan akan melanjutkan tradisi ini, meskipun zaman telah
berubah,” ujar salah satu tokoh desa setempat. Harapan ini selaras dengan usaha
untuk melestarikan warisan nenek moyang agar tetap ada meskipun zaman terus
berlanjut.
Saat ini, kerajinan gerabah dari Banyuning tidak hanya
dikenal di Bali, tetapi juga mulai menyasar pasar domestik dan internasional. Beberapa
perajin telah menerima pesanan khusus dari luar wilayah, bahkan ada yang
diekspor sebagai produk etnik berharga tinggi. Keunikan cara pembuatan yang
masih dilakukan dengan metode manual dan peralatan sederhana justru menambah
nilai yang membedakan gerabah Banyuning dari produk-produk industri massal.
Dengan segala
nilai-nilai budaya, prinsip hidup, dan keindahan yang ada, gerabah Banyuning lebih dari sekadar benda mati,
melainkan sebuah narasi yang panjang mengenai ketekunan, warisan, dan identitas
masyarakat Bali Utara. Dari elemen tanah, air, dan api, serta keahlian para
pengrajin, dihasilkan karya seni yang tidak hanya memiliki kegunaan, tetapi
juga menjadi lambang kearifan lokal yang terus bertahan hingga kini.