081775037001
081775037001
kelurahanbanyuning21@gmail.com
Kelurahan Banyuning

Menjaga Warisan Leluhur: Gerabah Tradisional Desa Banyuning Bertahan di Tengah Modernisasi Saat Ini

Admin kelurahanbanyuning | 15 Desember 2025 | 119 kali

By: Ni Putu Diva Maharani

Desa Banyuning di Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, telah lama dikenal sebagai pusat pembuatan barang gerabah. Berada di jantung Buleleng, desa ini bukan hanya memproduksi barang-barang fungsional untuk kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjaga tradisi yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagi warga Banyuning, proses pembuatan gerabah tidak sekadar untuk bekerja atau sebagai sumber pendapatan, tetapi merupakan bagian dari warisan budaya dan spiritual yang mencerminkan identitas desa mereka.

Kerajinan gerabah di Banyuning berakar dari kebutuhan masyarakat di masa lalu. Sebelum barang-barang dari logam dan plastik menjadi populer, alat-alat rumah tangga yang dominan di Bali dibuat dari tanah liat. Mulai dari kendi untuk menyimpan air, periuk untuk memasakan, tungku dapur, hingga wadah untuk sesajen dalam upacara adat, seluruhnya dihasilkan oleh para pengrajin yang terampil. Seiring berjalannya waktu, meskipun banyak produk modern mulai menggantikan fungsi gerabah, keberadaannya tetap relevan karena nilai tradisionalnya dan masih dipakai dalam berbagai upacara keagamaan Hindu di Bali.

Proses pembuatan gerabah di Banyuning dilakukan dengan metode tradisional yang memerlukan ketekunan. Tanah liat berkualitas tinggi diambil dari lokasi tertentu yang dianggap paling baik. Tanah ini kemudian diproses dengan menjemurnya hingga kering, lalu dihaluskan menggunakan sidi. Setelah tanah halus, adonan dituangkan di tempat yang bentuknya segi panjang, mencampurkan air dan menguleni hingga mendapatkan adonan yang lembut dan elastis. Setelah itu, para pengrajin mulai membentuk adonan tersebut menggunakan tangan maupun alat sederhana. Di Banyuning, teknik putar tradisional masih sering dipraktikkan untuk membentuk objek dengan simetris. Setelah selesai membuat, gerabah harus dikeringkan terlebih dahulu di bawah sinar matahari.

Waktu pengeringan ini berkisar antara satu hingga dua hari, tergantung pada cuaca. Jika belum cukup kering, gerabah bisa retak saat dibakar. Tahap selanjutnya adalah proses pembakaran, yang merupakan momen paling krusial dalam pembuatan gerabah. Di Banyuning, pembakaran dilakukan dengan cara menggunakan tungku sederhana yang terbuat dari susunan kayu, sabut kelapa, dan jerami kering. Proses ini membutuhkan waktu berjam-jam hingga suhu tinggi merubah tanah liat menjadi keras dan awet. Umumnya, pembuatan gerabah memerlukan waktu sekitar dua minggu untuk mencapai hasil yang ideal. Dari proses tersebut lahir gerabah khas Banyuning dengan warna coklat kehitaman dan tekstur alami yang menjadi ciri khasnya.

Namun, tantangan semakin sulit untuk diabaikan. Luh Suryanti, pemilik salah satu lokasi pembuatan gerabah di Banyuning, menyatakan bahwa jumlah perajin saat ini semakin sedikit karena rendahnya minat beli. Ia mengungkapkan, pembeli biasanya hanya datang pada waktu-waktu tertentu, seperti menjelang hari raya. Kondisi ini membuat beberapa warga mulai meninggalkan profesi sebagai pengrajin dan beralih ke pekerjaan lain. Meskipun begitu, gerabah Banyuning memiliki posisi istimewa di hati komunitas setempat. Produk ini masih sangat dibutuhkan dalam ritual tradisional, keperluan rumah tangga klasik, serta sebagai oleh-oleh bagi wisatawan. Pemerintah Kabupaten Buleleng bersama kelompok pengrajin kini mulai memperluas promosi kerajinan ini ke pangsa yang lebih besar.

Berbagai pameran kerajinan, festival budaya, dan program pelatihan desain kontemporer diselenggarakan untuk memberikan inovasi pada gerabah Banyuning tanpa kehilangan keasliannya. Sejumlah perajin juga mulai berinovasi dengan menciptakan barang-barang dekoratif, vas bunga, hingga suvenir kecil yang lebih menarik perhatian para wisatawan.

“Gerabah Banyuning lebih dari sekadar produk yang berguna; ia mencerminkan identitas budaya masyarakat Buleleng. Kami berharap generasi masa depan akan melanjutkan tradisi ini, meskipun zaman telah berubah,” ujar salah satu tokoh desa setempat. Harapan ini selaras dengan usaha untuk melestarikan warisan nenek moyang agar tetap ada meskipun zaman terus berlanjut.

Saat ini, kerajinan gerabah dari Banyuning tidak hanya dikenal di Bali, tetapi juga mulai menyasar pasar domestik dan internasional. Beberapa perajin telah menerima pesanan khusus dari luar wilayah, bahkan ada yang diekspor sebagai produk etnik berharga tinggi. Keunikan cara pembuatan yang masih dilakukan dengan metode manual dan peralatan sederhana justru menambah nilai yang membedakan gerabah Banyuning dari produk-produk industri massal.

 Dengan segala nilai-nilai budaya, prinsip hidup, dan keindahan yang ada, gerabah  Banyuning lebih dari sekadar benda mati, melainkan sebuah narasi yang panjang mengenai ketekunan, warisan, dan identitas masyarakat Bali Utara. Dari elemen tanah, air, dan api, serta keahlian para pengrajin, dihasilkan karya seni yang tidak hanya memiliki kegunaan, tetapi juga menjadi lambang kearifan lokal yang terus bertahan hingga kini.

Berita Terpopuler
Tidak ada data